Hak Kekayaan Intelektual di Tengah Gempuran Plagiatisme

Pada pertengahan bulan lalu, saya tercengang dengan beberapa aksi kawan-kawan mahasiswa. Bagaimana mereka dengan begitu lantang meneriakan tuntutan seorang kepala negara saat mengunjungi sebuah kota dalam acara memperingati ulang tahun sebuah ormas kepemudaan . Dalam “perjuangannya” mereka meneriakkan dengan lantang bagaimana seorang Kepala Negara itu untuk membenahi keadaan negeri ini yang penuh dengan korupsi dan penjualan sumber daya alam negeri ini yang memang belum dinikmati sepenuhnya oleh masyarakat. Itu memang betul akan tetapi, dalam konteks persaingan global seperti saat ini tidaklah kita mencoba menggeser pemikiran tentang bagaimana kita sebagai mahasiswa harus bersikap. Tidak hanya sebagai pengontrol kebijakan pemerintah namun  mencoba menyiapkan langkah guna bersaing dengan tekanan kapitalisme yang semakin mencekik. Pernahkah kita berteriak dengan lantang mengenai hak kekayaan  intelektual atau yang lebih kenal dengan hak cipta. Hak cipta dalam perspektif saya adalah hak untuk menyalin suatu ciptaan. Hak cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut untuk membatasi penggandaan tidak sah atas suatu ciptaan. Karena ini sejalan dengan tujuan tri dharma perguruan tinggi yang mana hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat indonesia. Dengan memperhatikan perkembangan dunia yang begitu pesat, maka pembentukan masyarakat Indonesia yang modern menjadi tujuan utama dari pembangunan nasional Indonesia. Masyarakat modern dalam hal ini mempunyai ciri  bagaimana lebih mudah menerima dan menyesuaikan diri kepada perubahan-perubahan, lebih ahli dalam menyatakan pendapatnya, memiliki rasa tanggungb jawab, lebih berorientasi kemasa depan, lebih mepunyai kesadaran mengenai waktu,organisasi, teknologi, dan ilmu pengetahuan. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menciptakan struktur baru, yaitu struktur global. Struktur tersebut akan mengakibatkan semua bangsa di dunia termasuk Indonesia, mau tidak mau akan terlibat dalam suatu tatanan global yang seragam, pola hubungan dan pergaulan yang seragam khususnya dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Aspek Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang semakin pesat terutama teknologi komunikasi dan transportasi, menyebabkan isu-isu global tersebut menjadi semakin cepat menyebar dan menerpa pada berbagai tatanan, baik tatanan politik, ekonomi, sosial budaya maupun pertahanan keamanan. Dengan kata lain globalisasi yang ditunjang dengan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjadikan dunia menjadi transparan tanpa mengenal batas-batas negara. Dalam era modern sekarang, justru kekayaan terbesar negeri ini terletak pada kekayaan Sumber Daya Manusia nya,bukan pada Sumber Daya Alam yang kita miliki. Karena kekayaan intelektual akan berimplikasi pada kualitas Sumber Daya Manusia suatu Negara. Apakah kita sebagai mahasiswa yang sangat jelas tahu plagiatisme sudah sangat merajalela akan tetap terdiam. Kemanakah arah tujuan perjuangan kita alihkan sekarang? Akankah kita terjebak dengan keadaan seperti awal sebelum reformasi di mulai. Ketika pemikiran  hanya sebatas menentang ketidakadilan saja tanpa menyiapkan langkah selanjutnya. Ini hanya sebuah opini. Semua tergantung pada pemikiran kita saja. Yang jelas hilangkan pemikiran bahwa kekayaan negeri ini terletak pada SDA karena sesungguhnya itu warisan kolonial. Hidup Mahasiswa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s