APATISME MAHASISWA TERHADAP POLITIK

Sebenarnya dalam konteks hari ini, judul dalam diskusi kali ini agaknya perlu di luruskan. Karena sejatinya realitas hari ini mengatakan bahwasanya bukan apatisme mahasiswa terhadap politik saja tetapi apatisme mahasiswa dalam berorganisasi. Berorganisasi tidak hanya dalam ruang politik saja, namun sudah hampir menyeluruh ke dalam organisasi yang bergerak dalam bidang yang lain. Ketika kita telisik lebih dalam, sebetulnya para mahasiswa itu sudah jauh lebih mengetahui apa itu politik, bagaimana berpolitik dan kegiatan di dalamnya. Kemerosotan animo mahasiswa dalam kegiatan berpolitik dapat disebabkan oleh banyak faktor. Entah faktor budaya, sejarah atau faktor pendukung yang lainnya. Menurut, saya pribadi faktor budaya dapat dijadikan salah satu sebab merosotnya animo mahasiswa terhadap politik karena memang jika dilihat secara kasat mata saja ada perubahan pola hidup atau karakter yang memang sudah berbeda jauh dari sebelumnya. Banyak para mahasiswa berfikir bahwasanya sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari kegiatan berorganisasi. Pola berfikir seperti ini akan selalu berkembang ketika para mahasiswa tidak menyadari arti penting berorganisasi khususnya dalam konteks politik. Ini relevan dengan apa yang kita temukan dalam kegiatan sehari-hari di dalam kampus. Kemudian, faktor sejarah dapat di kategorikan sebagai salah satu penyebab merosotnya animo mahasiswa dikarenakan para mahasiswa saat ini berpikir bahwasanya para mahasiswa yang sudah bergelut dalam organisasi politik cenderung mempunyai pemikiran yang sangat-sangat besar akan tetapi mereka gagal merealisasikan itu menjadi sesuatu yang terasa untuk para mahasiswa lain. Atau lebih tepatnya tidak ada perubahan yang relevan dengan apa yang dijanjikan. Jadi para mahasiswa itu berasumsi bahwa berpartisipasi atau tidak mereka dalam berorganisasi khususnya dalam bidang politik tidak akan berpengaruh besar terhadap perubahan yang diharapkan.

Nah,dalam realita dunia politik kampus kita tercinta, mungkin faktor diatas bisa dijadikan salah satu sebab terjadinya apatisme mahasiswa terhadap politik. Karena harus diakui atau tidak, selama ini mahasiswa tidak merasakan manfaat dari adanya organisasi politik yang ada. Keberadaan organisasi politik dalam kampus tidak mempunyai pengaruh dalam kegiatan perkuliahan mereka di dalam kampus. Entah itu, dalam hal akademik atau non akademik. Permasalahan ini bukan tidak disadari oleh para pejabat kampus yang terkait, banyak sudah pembicaraan mengenai permasalahan tersebut. Akan tetapi, semua seakan menguap ketika kita berbicara dalam penerapan realita sehari-hari. Dalam, permasalahan pemilwa yang sudah dilalui kemarin ini kita dapat melihat  kontroversi antara bem universitas dan bem fakultas hukum. Kita dapat melihat itu sebagai pertarungan yang “artifisial”.  Karena sebenarnya permasalahan terkait konstitusi itu sudah berulang kali terjadi, bahkan di tahun sebelumnya sudah ada teguran dari perwakilan fakultas hukum yang mana memang mereka beranggapan sudah mempunyai kedaulatan sendiri. Apakah perseteruan itu tidak dapat diselesaikan atau memang itu memang dibiarkan terjadi sebagai ajang untuk memprovokasi salah satu pihak dalam menegakkan kedaulatannya. Kita  sebagai seorang mahasiswa yang dianggap sebagai seorang intelektual seharusnya dapat mencari jalan tengah untuk menyelesaikan permasalahan itu. Kalau boleh jujur, keduanya(Bem U dan Bem FH) merupakan aset demokrasi kita bersama yang memang seharusnya saling mensuport kinerja masing masing organisasi yang mana memang menjadi ruang-ruang dimana kita dapat belajar menjadi berorganisasi yang baik. Karena sejatinya permasalahan ini  berakar pada interpretasi masing-masing pihak yang berpegangan pada dua sumber pijakan yang berbeda dan sumber itu di buat oleh para pendahulu tanpa  melihat data dan realitas yang terjadi saat ini.   Jadi, dalam permasalahan ini tidak ada salah satu pihak yang memang harus dibenarkan atau disalahkan. Jangan sampai permasalahan ini, dapat dijadikan alat untuk membuat suatu organisasi tandingan yang mana kejadian seperti ini sudah terjadi dalam kepengurusan olahraga terbesar di negeri ini (PSSI). Karena tidak menutup kemungkinan adanya Bem U tandingan atau bem FH tandingan untuk menyelaraskan suatu tujuan yang memang ingin dicapai masing-masing pihak.

Melihat apatisme mahasiswa terhadap politik akhir-akhir ini sebenarnya memang dapat dikategorikan suatu kegagalan.  Kegagalan dalam membangkitkan animo mahasiswa umum untuk dapat berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan organisasi yang berbau politik. Ada harapan, untuk membenahi permasalahan tersebut. Elemen pentingnya adalah bagaimana kita dapat meningkatkan gairah mahasiswa umum untuk dapat setidaknya mempunyai harapan terhadap kegiatan berorganisasi entah itu organisasi politik atau pun organisasi non politik.   Sejatinya ketika para mahasiswa umum mulai tertarik untuk berorganisasi entah itu dalam konsep yang kecil sekalipun entah itu di fakultas maupun universitas  ini akan berintegrasi dengan meningkatnya animo mahasiswa terhadap kegiatan berpolitik itu sendiri.Utamanya, kita memang membutuhkan seorang pemimpin yang progresif yang berani mendobrak stigma yang telah ada bahwa di rektorat sana menyukai pemimpin yang nurut dan tidak neko-neko. Karena yang para mahasiswa umum inginkan adalah mereka merasakan manfaat adanya organisasi politik kampus yang ada dan dapat dijadikan pegangan mereka ketika ada permasalahan yang terjadi di dalam kegiatan perkuliahan mereka. Sehingga membuat mereka berfikir menjadi suatu bagian dari organisasi politik itu sebagai suatu prestasi yang membanggakan. Ini sekaligus mengembalikan citra organisasi politik yang mana organisasi inti dari semua organisasi yang ada di dalam kampus. Sudah lama kita tidak merasakan bagaimana para pejabat Bem Universitas atau Bem Fakultas bernyanyi bersama meneriaki rektorat ketika ada suatu permasalahan yang menyangkut permasalahan mahasiswa umum karena sejatinya di tangan merekalah kita dapat berharap dan di tangan mereka jugalah posisi kita sebagai mahasiswa di pertaruhkan. So, mari kita bersama-sama mendukung organisasi politik yang ada dan percaya bahwa memang seorang pemimpin itu bukan diciptakan akan tetapi dilahirkan. Bukan begitu???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s